Mengerahkan Kemampuan secara Maksimal

http://www.gymquotes.co/wp-content/uploads/2017/05/be-brave-every-day-and-push-yourself-to-the-limit-motivational-gym-quotes.jpg

Ada suatu kalimat nasehat di negara barat yang kerap dipakai sebagai pemicu seseorang untuk dapat berprestasi dan selalu memenangkan persaingan yang bisanya diberikan oleh seorang mentor atau atasan ke anak buahnya. Kalimat ringkas tersebut berbunyi “in any attempt or effort, always push yourself to the limit” atau dalam terjemahan bebasnya “dalam bekerja dan berkarya, selalu kerahkan kemampuanmu secara maksimal”. Sekilas kalimat ini terlihat normatif dan sedikit bombastis, namun kalau direnungi secara sungguh-sungguh, mengandung makna yang cukup mendalam.

Ambillah contoh seorang karyawan yang diminta atasannya untuk menemani yang bersangkutan bertemu dengan calon klien dari PT X. Karena ini merupakan pertemuan pertama, maka atasannya memohon kepada karyawan tersebut untuk mempelajari produk dan jasa yang diciptakan serta ditawarkan PT X ke pasar industri terkait. Seorang karyawan yang “minimalis”, biasanya hanya akan mencari data atau informasi terkait dengan produk dan jasa yang dimaksud, kemudian tidur agar besok hari dapat bangun dengan sehat. Sementara karyawan yang berusaha untuk mengerahkan kemampuannya secara maksimal tidak saja berhenti pada mengetahui seluk beluk produk dan jasa dari PT X, namun lebih jauh lagi yang bersangkutan mempelajari sejarah berdirinya perusahaan tersebut, struktur organisasnya, siapa saja pemilik dan jajaran direksinya, ada berapa jumlah karyawannya, dimana saja wilayah operasinya, hingga sampai bersarnya pendapatan atau revenue tahunan yang diperolah. Semuanya didapatkan dari hasil menjelajah di internet dan membaca dari sejumlah sumber sekunder. Alhasil, keesokan harinya, ketika berada di dalam mobil bersama sang atasan, yang bersangkutan dapat memberikan sekilas profil PT X kepada atasannya tersebut – yang tentu saja akan membuat yang bersangkutan kagum - dan ketika diskusi berlangsung dengan pihak klien, atasan dapat menjalin komunikasi yang lebih hangat dan efektif karena bekal pengetahuan yang telah diberikan oleh karyawan yang merupakan asisten atau anak buahnya tersebut.

Contoh lain adalah sebuah situasi dimana seorang Direktur Pemasaran meminta kelima orang manajernya untuk melakukan kajian terhadap sebuah konsep  baru yang bernama CRM (Customer Relationship Management) dan menyelami apakah hal tersebut dapat dipergunakan oleh perusahaan dalam meningkatkan kinerjanya. Sang Direktur mengharapkan setiap manajer paling tidak menjelaskan kepadanya mengenai tinjauan CRM dilihat dari aspek 5W1H (What, Why, Who, Where, When, dan How). Empat orang manajer yang sangat sibuk dan tidak mau kehilangan waktu istirahat alias santai akan membuat konten presentasi yang secara struktur selaras dengan pertanyaan 5W1H seperti yang diinginkan atasannya. Namun seorang manajer yang berusaha untuk “memberikan yang terbaik” tidak hanya akan berhenti mengkaji CRM dari sudut pandang 5W1H semata, namun yang bersangkutan akan menambahkan butir-butir penting dalam presentasinya seperti: (i) kiat menerapkan CRM agar berhasil; (ii) penyebab kegagalan perusahaan yang mencoba menerapkan CRM; (iii) kondisi dan prasyarat yang harus dimiliki perusahaan jika ingin menerapkan CRM; (iv) perkiraan biaya yang harus dialokasikan dan dianggarkan untuk mengimplementasikan CRM; dan (v) pesaing-pesaing perusahaan yang telah menyerahkan CRM. Tentu saja manajer ini akan mendapatkan apresiasi yang berbeda dari Direktur Pemasaran, tidak saja karena keunikan presentasinya, namun yang bersangkutan berhasil memberikan nilai tambah bagi atasan yang bertambah wawasannya.

Sebuah contoh lagi adalah dalam hal mengembangkan perangkat lunak aplikasi tertentu. Kenyataan di lapangan memperlihatkan bahwa sangat jarang programmer atau pembuat program aplikasi yang dalam mengembangkan piranti lunak melalui penyusunan kode-kode perintah pemrograman memperhatikan unsur keamanan (baca: secured programming). Alasan klasiknya adalah karena sang pemesan tidak mensyarakatkan atau menekankan perlunya hal tersebut. Bagi seorang programmer yang selalu ingin memberikan yang terbaik bagi kliennya, walaupun tidak diminta, yang bersangkutan secara sadar menerapkan prinsip-prinsip pemrograman dengan memperhatikan aspek keamanan – yang tentu saja akan lebih banyak memakan waktu dan tenaga. Namun alhasil, produk yang dihasilkan adalah sesuatu yang berkualitas dan berbeda dari kebanyakan produk sejenis lainnya.

Prinsip “push yourself to the limit” ini tidak hanya berdasar pada anggapan bahwa apa pun yang dikerjakan harus memiliki kualitas yang baik, namun lebih dari pada itu. Hakekat utamanya adalah bahwa tugas apa pun yang diberikan kepada seseorang, tidak perduli apakah merupakan suatu hal yang sederhana hingga sebuah proyek yang kompleks, seyogiyanya dikerjakan dengan segala kesungguhan hati, yang terejawantahkan dalam bentuk pengerahan kemampuan maksimal dari invidivu yang bersangkutan untuk mewujudkan suatu hasil pekerjaan yang sesuai dengan kapasitas kompetensinya. Hal inilah yang akan membedakan seorang konsultan dengan konsultan lainnya, seorang programmer dengan sesama programmer lainnya, seorang analis senior dengan analis senior sesamanya, atau bahkan seorang operator komputer yang satu dengan kebanyakan operator lainnya. Dengan memiliki budaya dan perilaku untuk selalu melakukan pekerjaan dengan mengerahkan secara total kompetensi dan kemampuan yang dimiliki, dan menjauhi keinginan untuk menghasilkan atau melakukan sesuatu secara minimal atau medioker, maka nischaya indigidu tersebut dapat memenangkan setiap sesi persaingan di organisasi atau perusahaan tempat yang bersangkutan bekerja maupun di lingkungan tempatnya beraktivitas.

0 Response to "Mengerahkan Kemampuan secara Maksimal"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel