Mengasah Soft Skills, Meningkatkan Daya Saing

https://us.123rf.com/450wm/kgtoh/kgtoh1508/kgtoh150800348/43519410-background-concept-wordcloud-illustration-of-soft-skills.jpg?ver=6

Lulusan atau alumni perguruan tinggi dalam negeri sering dikritik kalangan industri sebagai seorang sosok yang pintar dalam penguasaan ilmu, namun lemah kemampuan “soft skill”-nya. Padahal ibarat uang logam bersisi dua, kedua hal tersebut haruslah dimiliki oleh seseorang yang ingin masuk ke dunia kerja. Akibat kurangnya kemampuan soft skill tersebut, tidak jarang yang bersangkutan gagal memperlihatkan prestasinya, atau memaksa perusahaan untuk mengeluarkan ekstra pengeluaran untuk pelaksanaan pelatihan, atau merasa minder dengan lulusan luar negeri yang cenderung terlihat lebih pandai dan percaya diri, atau bahkan memberikan pertimbangan kepada perusahaan untuk lebih memilih “membajak” individu lain yang telah matang dibandingkan melakukan perekrutan baru. Oleh karena itulah maka ketika berada dalam masa-masa kuliah, ada baiknya individu yang bersangkutan mengasah kemampuan soft skillnya dengan berbagai cara dan kesempatan yang tersedia. Berikut adalah sejumlah soft skill yang baik dikembangkan oleh seorang individu yang ingin sukses berkarir di dunia industry.

Pertama adalah Communication Skills

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kemampuan berkomunikasi secara efektif dalam berbagai konteks merupakan salah satu kelemahan terbesar dari kebanyakan lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Contonya adalah keahlian menggunakan kata-kata dan kalimat dalam berkorespondensi, melakukan negosiasi, menampilkan presentasi, menjalankan teknik persuasi, dan lain sebagainya. Komunikasi dipergunakan untuk meyakinkan pihak lain agar yang bersangkutan bersedia melakukan hal-hal yang diinginkan. Oleh karena itulah soft skill ini sangat perlu dimiliki oleh para lulusan perguruan tinggi. Dalam praktisnya, kemampuan komunikasi akan dipergunakan untuk: menjual produk atau jasa, menjalankan strategi pemasaran, mengatasi konflik dalam organisasi, meyakinkan pihak mitra untuk berkolaborasi, memecahkan kebuntuan dalam berinteraksi, dan lain lain. Fakta memperlihatkan bahwa kemampuan ini dapat dibangun oleh siapapun, karena pada dasarnya komunikasi merupakan suatu teknik dan seni mempergunakan panca indera dalam menyampaikan berbagai maksud tertentu kepada pihak lain. Pada akhirnya, mereka yang memiliki “jam terbang” tinggi dalam berinteraksi dengan orang lain cenderung memiliki keahlian komunikasi yang semakin baik.

Kedua adalah Leadership dan Team Building

Keahlian dalam hal “kepemimpinan” dibangun terlebih dahulu di dalam diri sendiri. Mereka yang berjiwa pemimpin cenderung memiliki sifat-sifat sebagai berikut: berenergi tinggi, selalu berinisiatif, berani menghadapi tantangan dan mengambil resiko, tidak mudah menyerah, memiliki visi jauh ke depan, sanggup memanfaatkan peluang, berfikiran kreatif, menjaga disiplin, dan pandai bersosialisasi/bergaul. Dalam sebuah organisasi, jiwa kepemimpinan semacam ini perlu ditanamkan kepada seluruh manajemen dan karyawannya- agar organisasi terkait dapat meraih visi dan misi yang telah dicanangkannya. Dari berbagai survey memperlihatkan, sangat sedikit SDM tanah air yang memiliki jiwa kepemimpinan tinggi ketika mulai berkarir di sebuah perusahaan atau organisasi. Kebanyakan dari mereka adalah “follower” atau para pengikut yang siap menjalankan perintah dari atasan. Perusahaan atau organisasi yang miskin pemimpin akan mengalami kesulitan dalam hal seperti: melakukan inovasi produk/jasa baru, menawarkan berbagai perubahan ke arah yang lebih baik, menerobos kebekuan dalam berbisnis dan berusaha, membangun komunikasi efektif antar unit-unit usaha, memberantas praktek-praktek melawan peraturan maupun etika, dan lain sebagainya. Dalam implementasinya, seorang pemimpin tidak bekerja sendirian – karena yang bersangkutan hanya dapat meraih visi yang ada melalui orang lain. Oleh karena itulah kemampuan dalam memimpin dan membangun sebuah grup, atau kelompok kerja, atau tim kerja, atau “task force”, merupakan sebuah keahlian yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. “To lead and to be led” – kemauan dana kemampuan untuk “memimpin dan dipimpin” adalah suatu sikap hidup yang sangat diperlukan untuk dapat sukses. Kemampuan leadership ini dapat secara dini dipelajari melalui partisipasi aktif mengikuti dan menjadi pengurus di beragam organisasi seperti: OSIS, Karang Taruna, olah raga, kesenian, profesi, hobby, dan lain sebagainya.

Ketiga adalah Marketing Skills

Pemasaran atau “marketing” adalah suatu cara untuk “menciptakan kebutuhan” bagi orang lain agar yang bersangkutan tertarik untuk membeli atau memiliki produk dan/atau jasa yang ditawarkan. Me-marketing-kan diri sendiri agar dapat diterima pekerjaan di sebuah perusahaan adalah tugas pemasaran pertama seorang lulusan perguruan tinggi. Yang bersangkutan harus sanggup meyakinkan perusahaan bahwa dari puluhan bahkan ratusan pelamar, dirinyalah yang paling tepat untuk direkrut. Tanpa adanya strategi dan teknik yang efektif dalam membuat CV, mengikuti wawancara, menegosiasikan kompensasi, dan memutuskan tawaran, mustahil seorang calon pekerja dapat menjadi pilihan perusahaan untuk dipekerjakan. Setelah menjadi karyawan pun, teknik marketing secara internal dan eksternal pun sangatlah dibutuhkan. Pemasaran eksternal terkait dengan cara efektif menciptakan kebutuhan pasar akan produk dan/atau jasa yang ditawarkan perusahaan. Sementara pemasaran internal terkait dengan bagaimana menyusun strategi agar berbagai ide, gagasan, hasil pekerjaan/penugasan, usulan, proposal, dan keluaran aktivitas dapat diterima dengan baik oleh para pemangku kepentingan. Terbukti individu yang memiliki kemampuan pemasaran tinggi cenderung memiliki jejak rekam karir yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kompetensi dimaksud.

Keempat adalah Interpersonal Skills

Organisasi seperti perusahaan pada dasarnya merupakan kumpulan dari sejumlah individu yang memiliki tujuan atau obyektif serupa – yaitu yang dicanangkan dalam visi dan misi perusahaan. Mengingat bahwa perusahaan terdiri dari kelompok-kelompok manusia dalam tatanan unit organisasi yang beragam, kemampuan dalam menjalin hubungan antar individu akan sangat menentukan efektif tidaknya organisasi tersebut berproses untuk mencapai obyektivitasnya. idividu dengan interpersonal skill yang baik dicirikan dengan seseorang yang memiliki sifat-sifat dan karakteristik perilaku seperti: mudah bergaul, mampu berempati, cerdas berkomunikasi, cepat beradaptasi, pandai membangun suasana, sanggup membangun kepercayaan orang lain, dan memiliki kesabaran yang tinggi. Mereka yang menguasai interpersonal skill cenderung dapat membawa dirinya secara tepat di dalam organisasi, hingga proses peningkatan karirnyapun akan semakin akseleratif. Penguasaan kompetensi ini dapat diasah secara efektif melalui berbagai interaksi sosial dan kemasyarakatan.

Kelima adalah Problem Solving dan Decision Making Skill

Setiap hari hampir seluruh jajaran manajemen, penyelia, bahkan staf sekalipun di perusahaan dihadapkan pada proses pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil akan sangat menentukan kinerja perusahaan, baik secara strategis maupun operasional. Dalam kerangka “good corporate governanance”, setiap pengambilan keputusan harus dilakukan dengan cara yang rasional – dalam arti kata harus memiliki dasar-dasar yang kuat dan dapat dipertanggung-jawabkan. Yang dimaksud dasar-dasar kuat di sini adalah bahwa setiap pengambilan keputusan harus dilakukan dengan mengikuti metodologi tertentu berdasarkan fakta (atau informasi) yang diperoleh dari lapangan. Dengan diikutinya metodologi dan dimilikinya informasi berkualitas inilah maka resiko bisnis yang dimungkinkan terjadi karena kesalahan proses pengambilan keputusan dapat ditekan sekecil mungkin. Disamping itu dengan mengambil keputusan yang tepat, berbagai manfaat dapat langsung diperoleh oleh perusahaan, seperti: optimalisasi sumber daya, minimalisasi kesalahan, maksimalisasi keuntungan, terhindar dari kerugian, percepatan bisnis, peningkatan kinerja, dan lain sebagainya. Walaupun cenderung bersifat kognitif, kemampuan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan perlu diperlengkapi dengan sejumlah keterampilan khusus. Pertama adalah bagaimana caranya melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan agar mau terlibat dalam proses pengambilan keputusan, Kedua adalah bagaimana caranya merumuskan persoalan yang dihadapi agar benar-benar menyentuh akar persoalan, bukan hanya permukaannya saja. Ketiga adalah bagaimana caranya mendapatkan alternatif solusi yang kreatif sebagai keputusan yang diambil secara kolektif. Dan keempat adalah bagaimana caranya agar keputusan yang telah diambil dapat dilaksanakan oleh segenap pemangku kepentingan terkait.

Kelima soft skill yang dipaparkan di atas dapat dipelajari semenjak usia dini. Cara termudah adalah dengan melakukan interaksi sosial sebanyak-banyaknya, melalui acara sederhana seperti pertemuan keluarga, aktivitas sekolah, dan kegiatan pertemanan – hingga yang formal seperti kepengurusan organisasi, kepanitiaan program, keterlibatan proyek, dan keanggotaan partai politik.

0 Response to "Mengasah Soft Skills, Meningkatkan Daya Saing"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel