Antara Kerja Keras dan Kerja Cerdas
http://images.clipartpanda.com/work-clipart-acepBKoc4.gif
Banyak karyawan pemula (baru mengalami masa-masa awal di dunia kerja) yang belakangan ini sering mengeluhkan lingkungan pekerjaannya. Salah satu butir keluhan klasik yang sering terungkap adalah adanya tuntutan “kerja keras” dari manajemen yang digambarkan sebagai “sosok pribadi yang kejam dan tidak berperasaan” terhadap karyawannya sehingga menyebabkan yang bersangkutan harus tiap hari lembur, dimana sesuai dengan peraturan perusahaan yang dimiliki tidak menyediakan tunjangan lembur yang memadai, belum lagi terhitung akibat yang dihasilkan seperti jika yang bersangkutan sakit, yang bertambah parah karena sang karyawan tidak mendapatkan atau memiliki asuransi kesehatan, dan lain sebagainya. Situasi menjadi bertambah runyam ketika individu ini menganggap bahwa yang dikerjakannya adalah sebuah pekerjaan administratif yang hanya membutuhkan otot atau kerja fisik, bukan memanfaatkan kemampuan otak atau potensi intelektual yang ada pada diri karyawan terkait. Fenomena seperti ini biasanya bermuara pada tiga jenis output. Pertama, yang bersangkutan akan memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut dan pindah kerja ke tempat lain. Kedua, yang bersangkutan akan melakukan protes dengan berbagai cara, mulai dari pengajuan keluhan hingga melaporkan ke LSM atau lembaga semacam Komnas HAM jika ternyata perusahaan yang bersangkutan tidak memperdulikannya. Ketiga, yang bersangkutan tetap bertahan di perusahaan tersebut, dengan menyimpan uneg-uneg tersebut di dalam hati, berharap segera terjadi perubahan dalam pola kerja yang dilakukannya.
Dalam keadaan krisis seperti sekarang ini, memang “kerja keras” dibutuhkan. Alasannya sederhana, yaitu karena dalam masa-masa atau situasi sulit, seorang individu terkadang harus melakukan aktivitas pengorbanan yang dua kali lebih besar untuk mendapatkan setengah dari hasil yang biasanya diperoleh pada situasi normal. Disamping itu dalam kondisi kritis, semakin sedikit jumlah sumber daya yang dapat dibagikan ke berbagai pihak yang kuantitas kebutuhannya semakin banyak. Jadi, jika pada saat ini banyak pekerja pemula yang baru memulai karirnya di sebuah perusahaan merasa terjebak dalam suatu kondisi “kerja keras”, jangan langsung khawatir, karena ternyata terdapat banyak hal positif yang dapat diambil dari pengalaman tersebut asalkan yang bersangkutan dapat menerapkan sejumlah kegiatan atau aktivitas “cerdas” di tengah-tengah kesibukannya tersebut. Bagaimana caranya melakukan “kerja cerdas”?
Pertama, dengan bekerja keras alias lembur, seseorang memiliki kesempatan untuk berkenalan serta berinteraksi dengan lebih banyak individu yang berada dalam perimeter organisasi. Waktu istirahat siang, rehat kopi sore hari, kesempatan makan malam, maupun di sela-sela waktu diantaranya, terjadi proses interaksi atau pertemuan antar sejumlah pekerja organisasi. Pergunakanlah kesempatan berharga ini untuk memperkenalkan diri, ngobrol santai, bertukar pikiran, dan lain sebagainya. Selain untuk menyegarkan pikiran yang stres, pendekatan ini mendatangkan banyak manfaat secara pribadi, mulai dari mencoba untuk memahami budaya perusahaan, mempelajari lingkungan bisnis internal dan eksternal terkait, mengenali orang-orang kunci (pimpinan dan manajemen) dari organisasi yang bersangkutan, hingga hanya sekedar menambah rekan kerja yang senasib sepenanggungan. Jika “smart” dan beruntung, dapat saja menemui mereka yang akan “menentukan” nasib yang bersangkutan di kemudian hari, sehingga merupakan sebuah asset yang sangat berharga dapat memiliki hubungan khusus semenjak awal dengan mereka.
Kedua, dengan bekerja keras, secara tidak langsung seorang individu meningkatkan portofolio pengalaman kerjanya, karena pasti yang bersangkutan memiliki rekam jejak menangani sejumlah proses dan sumber daya di atas rata-rata normal yang dihadapi karyawan non pekerja keras lain. Dalam konteks ini, jika sang pekerja “smart”, dia akan memanfaatkan kesempatan yang sama untuk mempelajari karakteristik proses bisnis yang digelutinya dan seluk beluk sumber daya yang ditanganinya. Hal ini akan meningkatkan pengetahuan individu yang bersangkutan, yang kelak akan sangat banyak berguna baginya terutama jika diminta untuk memberikan masukan dalam hal meningkatkan kinerja operasional usaha dipandang dari sisi perbaikan serta perbaikan pelaksanaan proses. Dalam konteks ini, karena pekerja keras secara paralel mengerjakan lebih dari satu aktivitas sekaligus, maka otomatis yang bersangkutan memiliki jam terbang yang lebih lama dengan lainnya, dan telah terlibat dengan jenis pekerjaan yang berbeda-beda sekaligus, dua buah faktor yang akan menentukan kecepatan pertumbuhan karir berikutnya.
Ketiga, jika pekerja yang dimaksud bekerja keras membanting tulang dalam rangka membantu bos atau atasannya, banyak sekali manfaat yang dapat diambil. Yang bersangkutan dapat melihat gaya kepemimpinan dan cara seorang manajer bekerja. Disamping itu dapat pula dipelajari prosedur internal apa saja yang harus diikuti dan dijalani dalam berbagai situasi kerja dan situasi pengambilan keputusan yang beragam. Belum terhitung begitu banyaknya naskah-naskah atau dokumen-dokumen penting yang dapat dipelajari dan menambah pengetahuan yang bersangkutan. Apalagi jika dalam beberapa kesempatan, sang pekerja keras kerap diajak untuk menemani pimpinan dalam menemui sejumlah rekan atau mitra usaha dalam berbagai pertemuan formal. “Kecerdasan” lebih dini akan menjadi miliki mereka yang memperoleh kesempatan yang tak bernilai harganya tersebut.
Keempat, dengan menunjukkan kinerja baik dalam suatu tekanan pekerjaan yang sangat tinggi, secara otomatis sang pekerja secara tidak sadar telah meletakkan atau menaikkan standar ekspektasi organisasi terhadap karyawannya. Artinya adalah bahwa mereka yang kelak tidak mampu menunjukkan performa tinggi yang sama dianggap tidak memiliki perilaku kinerja yang diharapkan oleh perusahaan. Mereka yang biasa bekerja keras akan dengan leluasa sanggup melenggang menjadi karyawan pilihan karena sudah terbiasa menghadapi medan kerja terkait. Secara cerdas yang bersangkutan dapat miniti jenjang karir lebih cepat dibandingkan karyawan lainnya.
Dan kelima, sudah bukan merupakan rahasia umum, orang yang biasa bekerja keras dikenal sebagai manusia tahan banting karena kerap berhadapan dengan situasi yang membutuhkan energi dan daya tahan tinggi. Pada saat situasi kritis datang, biasanya orang-orang ini sanggup bertahan apa adanya, karena biasa digembleng dalam situasi sulit; sementara dalam situasi normal, biasanya yang bersangkutan justru merasa mendapatkan waktu dan kesempatan luang lebih banyak, sehingga dapat dipergunakan untuk melakukan aktivitas cerdas lainnya – seperti membaca, belajar, ikut pelatihan, menjalankan hobby, dan lain sebagainya – sehingga memiliki kualitas kehidupan yang baik.
Oleh karena itu, suatu himbauan bagi mereka yang merasa selalu diperlakukan tidak adil oleh perusahaan karena terkesan kerap dibebani dengan pekerjaan berat yang tiada hentinya, berfikirlah ulang sekali lagi. Bukanlah sejalan dengan dibebaninya sejumlah pekerjaan berat semakin terbuka pula berbagai peluang untuk lebih banyak berkarya dan menghasilkan hal-hal yang bermanfaat lainnya?
0 Response to "Antara Kerja Keras dan Kerja Cerdas"
Posting Komentar