Membaca Bahasa Tubuh dalam Berkomunikasi

http://decodingpeople.co.uk/images/agreement-1024x926.jpg

Komunikasi adalah segalanya dalam kehidupan. Dengan berkomunikasi, maka seorang individu dapat memperoleh apa yang diinginkannya. Tanpa kemampuan melakukan komunikasi dengan baik, tak jarang banyak orang yang gagal dalam mencapai kemauan dan cita-citanya. Berdasarkan hasil riset, salah satu kelemahan lulusan informatika adalah kemampuan melakukan komunikasi secara efektif. Hal ini disebabkan karena semenjak kecil hingga belajar di kampus, jarang sekali yang bersangkutan diberikan pelatihan atau diasah kemampuannya untuk berkomunikasi secara efektif. Mungkin karena hal ini disebabkan karena ilmu informatika yang bersifat teknis, berorientasi pada pemikiran, berada pada ruang-ruang laboratorium yang “introvert”, dan bernuansa logis. Padahal pada kenyataannya, untuk dapat memasarkan produk, melatih user atau pengguna, mempresentasikan hasil karya, mengemukakan pendapat, dan lain sebagainya - membutuhkan keahlian berkomunikasi yang prima.

Mengingat tujuan utama dari berkomunikasi adalah agar orang lain mau melakukan hal-hal yang dikehendaki oleh sang komunikator, maka yang bersangkutan perlu memiliki cara atau sensor yang peka terhadap reaksi pendengar atau orang yang dicoba untuk dipengaruhi. Dengan berpegang pada teori yang mengatakan bahwa pada dasarnya komunikasi merupakan kesatuan tak terpisahkan antara interaksi secara verbal dan non verbal, dimana gerak tubuh sangat dominan dalam mempengaruhi efektivitas sebuah komunikasi, maka sangatlah penting bagi sang komunikator untuk dapat membaca tubuh lawan bicaranya. Artinya adalah, ketika sang komunikator sedang dalam proses untuk berkomunikasi dengan lawan bicaranya, satu atau sekelompok orang, yang bersangkutan harus dapat secara paralel melihat reaksi tubuh dari satu atau kelompok orang tersebut. Jika sinyalnya positif, maka yang bersangkutan dapat meneruskan usaha komunikasinya; sementara jika negatif, maka yang bersangkutan harus dengan segera merubah atau merevisi pola komunikasinya. Berikut adalah contoh bahasa tubuh yang dimaksud:

 Pendengar yang mengernyitkan alisnya ketika mendengarkan sebuah pernyataan ingin menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak setuju atau merasa aneh dengan hal yang dikemukakan;
Pendengar yang tidak melihat mata sang komunikator (no eye contact) ketika terjadi komunikasi ingin mengatakan bahwa yang bersangkutan sama sekali tidak tertarik dengan konten yang dibicarakan;
Pendengar yang bolak balik melihat sang komunikator dan kemudian menuliskan sesuatu di kertas memperlihatkan bahwa yang bersangkutan merasa mendapatkan manfaat dari presentasi yang dilakukan;
Pendengar yang bermuka cemberut selama komunikasi berlangsung mengandung arti bahwa yang bersangkutan merasa waktunya terbuang dengan “dipaksa” mendengarkan presentasi yang diberikan;
Pendengar yang tersenyum dan bermuka ramah selama komunikasi berlangsung mengisyaratkan bahwa yang bersangkutan merasa nyaman dengan proses yang terjadi;
Pendengar yang selama komunikasi berlangsung asik bermain dengan gadget elektroniknya jelas ingin memperlihatkan bahwa ada prioritas lain yang ada di pikirannya dibandingkan dengan mendengarkan ocehan komunikasi dari sang komunikator;
Pendengar yang sering mengangguk-nganggukan kepalanya selama komunikasi berlangsung memperlihatkan bahwa yang bersangkutan memiliki ide yang sama atau setuju dengan pendapat sang komunikator; dan lain sebagainya.

Hal ini memang nampak sederhana sekilas, namun jika benar-benar dipelajari akan memberikan manfaat yang besar. Mengapa? Karena seperti telah dikatakan sebelumnya, hanya dengan komunikasi secara efektiflah maka keinginan seseorang akan sesuatu dapat tercapai. Untuk dapat memastikan bahwa orang lain mau melakukan yang diinginkan, maka tidak ada cara lain kecuali membuatnya percaya dan merasa nyaman dengan sang komunikator dan konten yang dikomunikasikan. Agar dapat mengetahui apakah yang bersangkutan sedang berada pada zona nyaman atau tidak, maka sensor untuk membaca bahasa tubuh perlu dimiliki oleh sang komunikator. Bagaimana caranya agar mereka berada pada zona nyaman yang diinginkan? Tidak ada cara lain bagi sang komunikator kecuali harus mempelajari profil dari pendengarnya, sehingga yang bersangkutan dapat memilih strategi komunikasi yang sesuai. Contohnya:

Jika yang dihadapi adalah sekelompok pimpinan perusahaan, maka presentasi dan bahasa yang dipergunakan haruslah bersifat esensial dan strategis;
Jika yang dihadapi adalah ibu-ibu, maka model komunikasi yang dilakukan harus lebih mengedepankan atau menyentuh unsur yang bersifat emosional;
Jika yang dihadapi adalah remaja atau generasi muda, maka “bahasa gaul” harus banyak dipergunakan dalam berkomunikasi;
Jika yang dihadapi adalah komunitas teknikal, maka slide presentasi yang diperlihatkan haruslah yang terlihat detail dan rumit; dan lain sebagainya.

Memang kemampuan atau keahlian seseorang berbicara dan membaca bahasa tubuh sangat tergantung dengan “jam terbang” atau pengalaman berkomunikasi. Pengalaman hanya akan dapat diperoleh jika seseorang rajin melatih dirinya berkomunikasi dengan orang lain, baik secara verbal maupun non verbal, dalam situasi formal, informal, maupun semi formal. Oleh karena itulah maka bagi praktisi teknologi informasi, merupakan suatu keharusan untuk berani tampil berkomunikasi dengan orang lain, tidak hanya melalui media teknologi, tapi justri dalam konteks “face-to-face”, karena kompleksitasnya dan tantangannya yang lebih tinggi.

0 Response to "Membaca Bahasa Tubuh dalam Berkomunikasi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel