Menerapkan Sikap Empati Diri
http://www.northernsun.com/images/imagelarge/0266.jpg
Sebagai seorang profesional di bidangnya, kerap kali praktisi teknologi informasi diminta untuk membantu klien atau organisasi untuk membantunya. Ada berbagai bentuk model penugasan yang diharapkan, seperti: membuat aplikasi software, merancang arsitektur sistem, menginstalasi jaringan komputer, migrasi database, dan lain sebagainya. Pada kenyataannya, tidak semua penugasan tersebut berhasil dilaksanakan dengan baik. Salah satu penyebab kegagalannya adalah karena kebanyakan praktisi teknologi informasi hanya melihat permasalahan dari kacamatanya sendiri, tidak mencoba mendengarkan dan menggali lebih jauh mengenai profil, kondisi, dan kebutuhan klien. Salah satu “penyakit” individu atau praktisi yang jam terbangnya sudah tinggi adalah ingin semuanya berjalan “serba cepat” dengan cara membangun asumsi dan/atau persepsi yang sering kali keliru. Seperti dalam analogi dunia kedokteran, jika seorang dokter salah melakukan diagnosa, maka akibatnya tindakan medis yang diambil akan berakibat fatal pada akhirnya.
Cara yang paling praktis untuk memahami harapan atau ekspektasi dari klien atau organisasi yang dibantu adalah dengan cara bersikap empati, atau mencoba menempatkan diri pada posisi yang bersangkutan. Pendekatannya adalah sebagai berikut:
Galilah alasan mengapa yang bersangkutan mencoba untuk mencari bantuan dalam konteks pengembangan teknologi informasi dimaksud. Di sini haruslah berhati-hati karena sering kali sulit membedakan antara alasan yang dikemukakan dengan alasan sebenarnya. Contoh alasan yang dikemukakan misalnya: ingin prosesnya agar lebih efisien, ingin aktivitas yang terjadi lebih transparan, ingin mengontrol atau mengendalikan prosedur kerja operasional agar lebih baik, ingin menciptakan produk atau jasa yang berkualitas, dan lain sebagainya. Namun terkadang alasan sebenarnya yang tidak terucapkan seperti: ditegur atasan karena tidak memiliki data yang akurat, ditekan vendor untuk membeli teknologi tertentu, dikomplain banyak pelanggan karena proses kerja yang buruk, kehilangan banyak uang karena implementasi masa lalu yang dinilai gagal, dan lain sebagainya. Untuk mendapatkan alasan yang lengkap, dibutuhkan hubungan atau relasi kerja yang baik berbasis rasa saling percaya dan profesionalisme. Dalam kondisi inilah seorang praktisi yang profesional harus mau banyak mendengarkan dan memahami permasalahan yang terjadi.
Coba pahami kira-kira seperti apa ekspektasi klien terhadap hasil kerja atau penugasan yang diberikan (output maupun outcomes yang diharapkan). Dengan berpikir “mulai dari akhir” tersebut, maka sang praktisi dapat mengetahui apakah tugasnya sudah selesai atau tidak, dan mencapai yang diinginkan atau belum. Berbasis informasi ini, akan mudah dirancang proses dan metodologi kerjanya. agar menghasilkan sesuatu yang benar-benar bermanfaat dan diharapkan oleh klien atau organisasi yang menugaskannya. Cara terbaik untuk menggali informasi ini adalah dengan memperlihatkan contoh atau prototip, karena biasanya produk dari teknologi informasi tersebut sulit untuk digambarkan. Pendekatan lain adalah dengan cara studi komparasi, benchmarking, pilot project, dan lain sebagainya.
Usahakan jangan ada jarak antara yang bertugas dengan para pemangku kepentingan lain di organisasi. Biasanya profesional yang bekerja hanya memiliki hubungan dekat dengan pemberi kerja, namun tidak begitu dekat dengan mereka yang berkepentingan dengan pekerjaan tersebut, misalnya adalah karyawan, pengguna (user), pihak ketiga (vendor), dan lain-lain. Perlu diperhatikan bahwa pada akhirnya, sang konsultan akan meninggalkan organisasi dan pekerjaannya akan diteruskan oleh sumber daya manusia yang bekerja pada organisasi tersebut. Sangatlah egois atau jika tidak ingin dikatakan melanggar etika jika sang profesional yang berfikir jangka pendek semata (berbasis proyek) tanpa memikirkan kelanjutan hasil kerjanya di kemudian hari. Dapat dikatakan bahwa keberhasilan seorang profesional dalam membantu atau memberi nilai tambah bagi organisasi yang dilayaninya dapat dilihat pada saat proyek telah usai dan yang bersangkutan sudah pergi. Jika organisasi tetap dapat memperoleh manfaat dan mengoperasikan teknologi informasi sebagaimana dibantu oleh konsultan terdahulu, maka individu tersebut dapat dinobatkan sebagai seorang profesional.
Tidak perlu khawatir untuk belajar dari berbagai kesalahan yang ada. Seringkali seorang profesional memiliki sikap anti kritik atau tidak mau disalahkan. Padahal melalui masukan obyektif dari orang lain itulah maka kemajuan dalam berkarya dapat diperoleh. Terkadang sesungguhnya yang ingin dicapai oleh sang pengkritik, yang biasanya berasal dari dalam organisasi, adalah karena ingin diperhatikan atau dipertimbangkan masukannya. Artinya adalah bahwa sang profesional harus berani membaurkan diri dengan organisasi dengan membuka kanal informasi dan komunikasi sebanyak-banyaknya, agar kehadirannya tidak dianggap sebagai ancaman namun dipandang sebagai peluang untuk melakukan sejumlah perbaikan yang signifikan.
Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa seorang profesional harus memiliki kecintaan terhadap pekerjaannya, yaitu membantu orang lain dengan cara mendengarkan, berkomunikasi, dan berinteraksi secara intensif demi kemajuan bersama.
0 Response to "Menerapkan Sikap Empati Diri"
Posting Komentar