Sukses Menjadi Technopreneur
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg96UBj0Zf3UjM14Gd7axyiDmwdXAYv6DT823o7Bs2j_yF7IAcTpv8WtRJ4XV8FIvRyDqtNJhsZMA_f8jaL3GMCpcLGBr8t7-dWTjENtN43ForELJScglG4oh1eZsrC7AalFwSo0AnEJYg/s1600/Technopreneur.png
Dalam sebuah seminar nasional mengenai “entrepreneurship”, konon ada sebuah pertanyaan yang diajukan moderator kepada nara sumber utama, yang merupakan seorang tokoh wiraswastawan terkenal di tanah air. Pertanyaannya begini: “menurut pendapat Bapak, bisnis apa yang paling tepat dan menguntungkan untuk ditekuni saat ini?”. Sang tokoh menjawab: “pertanyaan yang cukup bagus, namun bagi saya seorang entrepreneur, pertanyaan tersebut ‘salah’ cara memformulasikannya”. Selanjutnya adalah alasan yang dikemukakan beliau.
Yang selayaknya dilakukan oleh seorang calon wiraswastawan adalah sebagai berikut. Pertama, daftarkan melalui proses brainstorming seratus jenis usaha yang menurut anda layak untuk ditekuni di tanah air karena ada potensi pasar dan peluang bisnisnya. Kedua, dari seratus jenis usaha tersebut, anda pilih mana saja yang paling anda suka atau minati- dalam arti kata sesuatu aktivitas yang benar-benar menyenangkan anda jika ditekuni sehari-hari. Dari sisa daftar tersebut, pilihlah jenis usaha yang anda paling menguasai untuk melaksanakannya – karena anda memiliki pengetahuan, sumber daya, jejaring, dan mitra kerja. Nah, sisa jenis usaha yang ada pada daftar itulah merupakan peluang usaha yang tepat bagi anda.
Pendekatan dan kiat di atas sepintas terkesan terlampau sederhana dan menggampangkan masalah. Namun jika dilihat dari esensinya, sebenarnya cara tersebut sangatlah tepat. Kenyataan memperlihatkan bahwa kebanyakan aktivitas wiraswasta dapat berhasil dengan baik, apabila sang wiraswastawan memilih sebuah jenis usaha yang dia SUKAI dan KUASAI. Pendekatan yang disampaikan di atas selaras dengan prinsip tersebut.
Salah satu karakteristik dan kunci keberhasilan aktivitas wiraswasta adalah adanya perjalanan proses yang PERSISTENCE dan FOKUS. Yang dimaksud dengan “persistence” adalah adanya suatu kemampuan daya tahan untuk tetap berjuang keras membangun bisnis yang dipilihnya dalam segala suka duka dan berbagai perjuangan jatuh bangunnya secara konsisten, berkesinambungan, dan terus menerus. Sementara "fokus" adalah dalam konteks bahwa yang bersangkutan memutuskan menggunakan seluruh waktu, perhatian, dan sumber daya yang dimilikinya untuk menekuni usaha ini, tidak melakukan hal-hal atau pekerjaan lainnya.
Setelah memilih hal yang di-SUKAI dan KUASAI dan berkomitmen untuk PERSISTENCE dan FOKUS, barulah tahapan pelaksanaan wiraswasta dilakukan, yaitu:
Mempelajari Pasar atau Market yang ingin dipenetrasi – dalam hal ini adalah mencermati kebutuhan dan menghitung-hitung besarnya potensi peluang bisnis yang ingin ditekuni, dilihat dari segi perkiraan nilai pasar dan target keuntungan yang dapat diraih daripadanya (Sisi Demand);
Mendefinisikan Produk dan/atau Jasa yang ingin diciptakan dan ditawarkan ke pasar sebagai jawaban atas adanya kebutuhan terkait, dan hal-hal special apa saja yang harus dimiliki sebagai “property” dari produk/jasa yang ingin ditawarkan agar dapat bersaing dengan produk/jasa serupa yang telah ada sebelumnya (Sisi Supply);
Menentukan Sumber Daya yang dibutuhkan untuk paling tidak dapat melakukan perjalanan wiraswasta untuk jangka pendek (1-3 tahun), yang menyangkut dua hal yaitu pada tahap investasi dan tahap operasional;
Membuat Arus Kas Bisnis berdasarkan informasi yang didapat dalam ketiga tahap sebelumnya untuk menjamin dan meyakinkan tidak adanya interupsi kegiatan pada tahap-tahap awal pelaksanaannya yang dapat berpengaruh terhadap daya tahan usaha terkait (ada baiknya membuat pula Profit and Loss Statement terutama jika melibatkan investasi besar dari pihak ketiga);
Mengembangkan Rencana dan Model Bisnis yang sesuai dengan target dan karakteristik usaha, dimana di dalamnya telah diperhitungkan secara seksama berbagai hal terkait dengan asumsi keberhasilan dan resiko yang dihadapi, paling tidak untuk perspektif jangka pendek dan menengah;
Mengadakan Sumber Daya yang dibutuhkan untuk memulai usaha, termasuk di dalamnya melakukan persiapan-persiapan mendasar untuk melakukan sebuah bisnis, seperti: menyewa kantor, merekrut karyawan, mencari investor, membuat brosur, dan lain sebagainya; dan
Menjalankan Bisnis berdasarkan rencana dan model yang telah didefinisikan sebelumnya dengan menggunakan strategi serta pendekatan sesuai dengan karakter pasar, industry, dan produk/jasa yang ditawarkan; dan
Melakukan Evaluasi dan Pembelajaran secara kontinyu dari hari ke hari untuk segera melakukan berbagai perbaikan dan revisi dalam berbagai hal demi peningkatan kinerja usaha yang lebih baik.
Perlu diingat, melakukan wiraswasta tidak sama dengan bekerja sebagai karyawan dalam sebuah perusahaan. Dalam melakukan wiraswasta, diperlukan “gairah usaha” atau PASSION dari sang pemilik atau wiraswastawan, yang menjadi kunci atau nyawa dari usia proses wiraswasta itu sendiri. Kerja keras dan kerja cerdas, merupakan gabungan pendekatan yang diharapkan ada pada seorang wiraswastawan. Demikian pula aspek LEADERSHIP dan MANAGEMENT merupakan dua buah disiplin ilmu dan kompetensi yang perlu dimiliki seorang wiraswasta, agar yang bersangkutan dapat mengelola berbagai komponen internal maupun eksternal yang mempengaruhi sebuah kegiatan wiraswasta.
0 Response to "Sukses Menjadi Technopreneur"
Posting Komentar