Melatih Diri di Zona Tidak Nyaman
https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/7c/fb/8a/7cfb8af7b935a7e555132b798004a442.jpg
Charles Darwin mengatakan dalam teorinya bahwa “mahkluk” yang akan “survive” atau bertahan adalah bukan yang terkuat atau tercerdas, namun yang mampu selalu beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Dalam konteks masa kini, dinamika perubahan lingkungan adalah suatu kenischayaan yang harus dihadapi sehari-hari. Globalisasi, konvergensi industri, masyarakat ekonomi ASEAN, persaingan bebas, kapitalisme pasar, reformasi politik, dan fenomena lainnya adalah pemicu dari segala bentuk perubahan dimaksud. Hanya mereka yang mampu senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang senantiasa berubah sajalah yang akan sukses dalam hidupnya. Cara terampuh bagi lulusan perguruan tinggi untuk melatih menjadi seorang individu mandiri yang mampu beradaptasi dengan perubahan adalah melalui kebiasaan untuk berani berada dalam zona yang tidak nyaman – dalam arti kata memutuskan untuk menempatkan diri pada suatu lingkungan yang asing baginya. Hanya dalam kondisi inilah maka yang bersangkutan dapat melatih dirinya untuk belajar berani dan mandiri, dimana akan lahir dengan sendirinya kemampuan untuk berinovasi, berkreasi, berimprovisasi, dan beradaptasi dengan hal baru tersebut. Contohnya adalah sebagai berikut:
Seseorang yang dalam hidupnya senantiasa berada di dalam lingkungan dan lindungan kedua orang tuanya dalam satu rumah, dapat mengambil jalan untuk hidup sendiri di asrama atau tempat kos-kosan yang berada jauh dari lingkungan yang dikenalnya;
Lulusan perguruan tinggi yang selama kuliah hanya sibuk belajar sendiri dan bekerja di laboratorium berkeputusan untuk menjadi pengurus organisasi kemasyarakatan yang aktif menyelenggarakan kegiatan berskala besar dan masif (melibatkan publik secara luas);
Individu yang tidak suka berpergian memutuskan untuk berkelana keliling Indonesia selama berbulan-bulan dengan berbekal alat-alat sederhana (backpacker);
Mereka yang tidak berani berbicara dalam bahasa Inggris menyempatkan diri setiap hari Sabtu dan Minggu berkumpul dengan komunitas warga asing dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan;
Bagi yang setiap hari atau minggunya senantiasa mendapatkan kesempatan untuk makan makanan enak dan bergizi, mencoba untuk membiasakan diri mengkonsumsi makanan sederhana yang biasa dinikmati oleh mereka yang berkekurangan;
Jika setiap hari selalu mengendari motor atau mobil milik sendiri untuk berpergian dari satu tempat ke tempat yang lain, maka untuk selanjutnya merubah kebiasaan tersebut dengan cara bertransportasi dengan menggunakan fasilitas publik – seperti bis, angkutan kota, ojek, jalan kaki, dan lain-lain;
Generasi muda yang selama ini senantiasa mendapatkan informasi melalui internet, mencoba untuk secara rutin dan berkala setiap harinya membaca koran dan majalah, serta mendengarkan berita di televisi yang disiarkan oleh stasiun lokal, regional, dan internasional; dan lain sebagainya.
Inti dari tujuan menempatkan diri pada zona tidak nyaman pada dasarnya adalah untuk:
Melatih individu jika dihadapkan pada situasi nyata dimana yang bersangkutan harus berada pada satu lingkungan yang asing baginya;
Membiasakan individu dalam menghadapi berbagai persoalan hidup yang tidak pernah dihadapi sebelumnya;
Menguji kegigihan dan kemandirian individu dalam berhadapan dengan berbagai komponen tak terduga sebelumnya;
Menanamkan jiwa kreativitas dan inovatif dalam diri individu karena harus menyelesaikan sejumlah permasalahan lapangan yang
penuh tantangan;
Memastikan individu memiliki daya tahan dan kesadaran dalam menghadapi sejumlah situasi yang tidak diinginkan;
Memperlihatkan bagaimana “soft skills” yang beraneka ragam dibutuhkan oleh individu dalam menghadapi kehidupannya, seperti: kerja sama tim, negosiasi, komunikasi, kemampuan presentasi, teknik persuasi, pengambilan keputusan, dan lain-lain;
Mengasah kemampuan individu dalam menyusun rencana dan strategi untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi; dan lain sebagainya.
Dalam zona tidak nyaman, terdapat begitu banyak variabel yang tidak terduga sebelumnya. Sehingga jika individu terbiasa dalam menghadapi berbagai tantangan tak terduga ini, maka dalam situasi normal, yang bersangkutan pasti tidak akan menemui masalah yang berarti – dan dapat menunjukkan kinerjanya secara maksimal.
0 Response to "Melatih Diri di Zona Tidak Nyaman"
Posting Komentar